Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

Gajah Aceh Terancam Punah

Aceh’s elephants in peril

Hanya 540 gajah sumatera yang tersisa di Aceh.

Pada tahun 1996 ada sekitar 700, menurun dramatis selama 15 tahun (1996 - 2011) menurut data dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

BKSDA telah mencatat bahwa ancaman utama untuk gajah-gajah ini adalah dari pemburuan gading mereka, konflik dengan penduduk setempat, pembangunan jalan dan pemukiman serta reklamasi lahan untuk perkebunan kelapa sawit yang telah mendesak habitat gajah dan memaksa gajah untuk berburu pakan lebih dekat dengan wilayah pemukiman, yang kadang-kadang berujung pada kematian mereka disebabkan oleh keracunan.

Secara historis, gajah dan manusia telah hidup berdampingan dengan damai di Aceh. Pada abad ke-16, gajah-gajah tersebut diberi gelar Teungku Rayeuk oleh para nenek moyang di Aceh - Teungku berarti "saleh" dan Rayeuk berarti "besar dan hebat". Selama kejayaan kerajaan Aceh, mamalia besar ini turut bergabung dalm pertempuran sebagai comrades-in-arms.

Untuk konservasi dan perlindungan habitat gajah, pemerintah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah menjinakkan mamalia ini untuk menangani konflik dengan manusia, memulihkan citra ramah mereka antara masyarakat lokal sehingga mereka dapat dilindungi sebagai satwa langka daripada dihancurkan sebagai hama.

Pelatihan ini juga berguna untuk membantu menangani konflik manusia dengan gajah-gajah liar dengan menggembalakan gajah liar kembali ke hutan, dan mereka membantu penjaga hutan dalam menjaga upaya konservasi dari penebangan liar. Gajah bahkan telah diajarkan untuk menjadi penangkap, pelatih, penghibur, pekerja dan untuk melakukan tugas-tugas lain yang diperlukan.

Namun, meskipun upaya dari pemerintah dan LSM, kematian gajah masih terus tercatat di wilayah tersebut. Mereka yang terlibat konflik dengan gajah masih mempersepsikan gajah seperti sebagai tikus yang mengancam pertanian, perkebunan dan pemukiman.

Masih menjadi pertanyaan apakah generasi mendatang akan merasakan keberadaan gajah Sumatera di hutan-hutan, terutama setelah menyadari ancaman yang dialami mamalia ini.

Sumber: The Jakarta Post