Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

30 Hektare Sawah di Babo Kering

KUALASIMPANG – Akibat musim kemarau yang melanda, sekitar 30 hektare sawah di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, kini kering. Hal itu disebabkan, sejak Desember 2011, debit air Alur Babo II yang berada di Dusun Sido Rejo terus mengecil.

Ketua Kelompok Tani Babo Jaya, Paimin kepada Serambi, Kamis (1/3), mengaku sudah mencoba mengakali dengan cara membendung aliran parit saluran air, namun upaya tersebut gagal. Hal itu disebabkan minimnya debit air yang dibawa dari sumber mata air.

Paimin menambahkan, dampak dari ketiadaan air, rata-rata tanah petak sawah sekarang dalam keadaan pecah-pecah. Kelompok Babo Jaya, tambahnya, sangat berharap kepada Dinas Pertanian dan Dinas PU Aceh Tamiang dapat membantu untuk pengadaan program sumur bor/pompa dengan minimal sebanyak tiga unit.

Menurut Paimin, pengadaan sumur bor pompa tersebut sebagai jawaban untuk terpenuhinya ketersediaan air di persawahan. “Agar petani sawah tetap dapat melanjutkan aktivitasnya seperti periode musim sebelumnya,” katanya.

Teleng, pengurus kelompok tani itu menambahkan, jika persoalan air tersebut tidak cepat teratasi, musim tanam periode ini akan gagal. “Petani Babo akan merugi serta kehilangan satu kali musim tanam,”kata Teleng merincikan.

Sementara itu, Sugiono, Staf Advokasi LSM Sheep Foundation yang memiliki konsentrasi pendampingan di Kampung Babo, mengatakan, selain kebutuhan mendesak air untuk sawah, harus juga disertakan kegiatan untuk perbaikan dan pembuatan ulang saluran parit irigasi sepanjang 3.000 meter. Karena optimalisasi saluran irigasi hasil kegiatan program tahun 2008 sekarang kondisinya sudah rusak parah.”Sangat disayangkan, dana sebesar Rp 1,5 miliar, hanya dapat dimanfaatkan petani untuk jangka waktu 4 tahun,” katanya.

Menurut Sugiono, melihat persoalan kekeringan ini bukan semata dikarnakan musim kemarau yang meny ebabkan debit air kecil, tapi dikarnakan saluran parit pedanaan Otsus tahun 2008 yang rusak parah. Selain itu, tata guna lahan dan perubahan fungsi pemanfaatan lahan juga menjadi salah satu penyebab keringnya banyak sumber mata air.(yuh)

Editor : bakri

Sumber  Serambinews.com, 2 maret 2012

Aceh Tamiang News

  • 10 Tahun Sekali Tamiang Banjir Besar KUALA SIMPANG - Pemkab Aceh Tamiang dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Rabu (28/3), menggelar workshop persiapan survey lapangan (ground check workshop) penyusunan perencanaan suatu keadaan yang diperkirakan bisa terjadi bencana (kontinjensi). Acara dilaksanakan secara terpisah. Di Aceh Tamiang dipusatkan di Hotel Morielisa, Karang Baru, sedangkan di Aceh Timur yang dipusatkan di  Pendopo Meuligo Aceh Timur. Sekda Aceh Tamiang, Saiful Bahri SH  pada pembukaan...
    11 April 2012
    Read More...
  • Warga Desa Rongo Protes Penyitaan Lahan SawitWarga Desa Rongo Protes Penyitaan Lahan Sawit KUALASIMPANG - Warga pemilik kebun sawit di Desa Rongo, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, protes terhadap penyitaan lahan sawit yang dilakukan BPKEL Aceh dua tahun lalu dengan alasan masuk Kawasan Ekosistem Lauser (KEL). Sampai saat ini lahan tersebut tidak dimanfaatkan dan terlantar, sementara warga dilarang mengambil hasil dari tanaman sawit. Ramli (50), seorang pekerja kebun milik warga yang disita kepada...
    10 April 2012
    Read More...
  • 30 Hektare Sawah di Babo Kering KUALASIMPANG – Akibat musim kemarau yang melanda, sekitar 30 hektare sawah di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, kini kering. Hal itu disebabkan, sejak Desember 2011, debit air Alur Babo II yang berada di Dusun Sido Rejo terus mengecil. Ketua Kelompok Tani Babo Jaya, Paimin kepada Serambi, Kamis (1/3), mengaku sudah mencoba mengakali dengan cara membendung aliran parit saluran air, namun upaya tersebut gagal. Hal itu disebabkan minimnya debit air...
    05 Maret 2012
    Read More...
  • Dilarang Lewati Kebun, Warga Blokir Jalan PT MPLI KUALASIMPANG - Warga Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, Minggu (26/2) memblokir jalan perkebunan PT Mestika Prima Lestari Indah (MPLI), dengan cara mengeruk badan jalan perusahaan menggunakan alat beco. Aksi masyarakat itu dipicu karena merasa dilarang melintasi jalan kebun MPLI menuju kebun mereka di desa setempat. Tokoh Pemuda Tamiang Hulu, Ucak kepada Serambi, Senin (27/2) mengatakan, aksi protes terhadap perusahaan perkebunan...
    28 Februari 2012
    Read More...